Tabligh Markaz Archive

5

Kampung Madinah yang Syahdu

Masjid-PP-Alfatah5Bagi penulis, setiap perjalanan selalu memberikan kesan yang unik dan menarik. ?Perjalanan, baik itu jauh atau dekat, sendirian atau berombongan, dengan moda transportasi apapun, dimanapun lokasinya, atau apapun tujuannya, sudah selayaknya dinikmati.? Hal ini juga membuat hati lebih nyaman, tenang dan terang.? Dengan menikmatinya, banyak hal, pengalaman, dan manfaat diperoleh.? Penulis sering berpikir lama memahaminya dibalik apa yang nampak.? Penulis biasa melepas pikiran untuk menyerap informasi dan pengalaman.? Penulis selalu penasaran untuk menelaah lebih dalam fenomena sesungguhnya.? Perjalanan kali ini, sambil menikmati liburan 1 Muharam 1434H, yakni ke Kampung Madinah, benar-benar sangat luar biasa, sungguh sangat berkesan.

Kampung Madinah terletak di desa Temboro, kecamatan Karas, kabupaten Magetan, pada posisi geografi? 7?35?14.41″ Lintang Selatan; 111?23?24.09″ Bujur Timur.? Menuju desa Temboro ini, dapat dicapai melalui jalan raya dari Madiun menuju Ngawi.? Sesudah terminal?Maospati (dekat komplek Angkatan Udara Iswahyudi), sekitar 200 m ke arah Ngawi, kemudian belok ke kiri (barat) ?memasuki jalan desa sejauh kurang lebih 1.5 km.? Kampung Madinah ini berdekatan dengan pondok pesantren (PP Al Fatah), dan kehidupan sehari-hari banyak dipengaruhi oleh pondok yang memiliki santri sekitar delapan ribuan.

Perjalanan ini benar-benar tidak terencana.? Persiapan sama dengan halnya perjalanan umumnya, kecuali membawa baju dan perlengkapan muslim. Awalnya, penulis ingin menginap hanya semalam karena ada keperluan Reuni pada hari berikutnya di Yogyakarta; sudah terskedul sebelumnya dan telah dikoordinasikan dengan pimpinan rombongan, pak Mukhsim.? Namun, semuanya telah menjadi kehendak Allah, sehingga penulis dapat menyelesaikan tiga hari di kampung Madinah tersebut, sejak hari Kamis, 15 hingga Ahad 18 Nopember 2012. Perjalanan dengan mobil dari Malang menuju Kampung Madinah memerlukan waktu lima jam.? Kami sebanyak sembilan orang (penulis, Mukhsim, Aji, Yani, Agung, Abudar, Sis, Suheri, dan Maksum) berangkat jam 7.30 dan tiba desa Temboro jam 12.30.? Kami langsung menuju masjid di PP Al Fatah dimana kami akan menginab semalam.

Kata yang tepat adalah Masya Allah (itu semua atas kehendak Allah), .. luar biasa? ketika masuk masjid.? Bangunan masjid merupakan komplek menyatu yang terdiri masjid, ruang-ruang pembelajaran, taman, dan pondokan santri (lihat?galeri foto).? Di bagian belakang juga ada kantin dan toko koperasi.? Komplek pondok secara keseluruhan mencapai lebih dari 50 ha, termasuk perkantoran, toko serba ada, pondok putri, dan pondok lama.? Suasana dalam komplek masjid sangat tertata, teratur, bersih, segar.? Air bersih melimpah, padahal dulunya sangat terbatas saat belum dibangun pondok. Penulis sempat berjalan-jalan menikmati keadaan komplek masjid, mengamati para santri yang sedang beraktivitas.? Ada santri yang sedang mencuci baju, ngobrol, dan tentu sedang membaca.? Mereka umumnya sedang bersantai menikmati liburan setiap hari kamis.? Penulis sempat masuk toko koperasi, yang menjual aneka kebutuhan hidup santri misalnya pakaian, peralatan mandi, parfum, dan buku-buku agama.

Rombongan kami beristirahat di rumah tamu, yang terletak bersebelahan bagian barat masjid.? Rumah tamu berukuran sekitar 15 x 15 m, merupakan ruang terbuka dengan sekat kelambu berwarna orange (bisa buka tutup).? Lantai dipenuhi karpet dan bantal untuk tidur (bisa memuat hingga 25 orang), dilengkapi kamar mandi dan tempat wudlu.? Di sebelah ruang tamu, ada ruang belajar (10x6m) dan dapur.? Di ruang tamu ini kami tidak sendiri, tetapi juga ada rombongan tamu lain dari Bangil dan Surabaya.? Para tamu ini diundang oleh pimpinan/pengasuh pondok untuk silaturahim, mengikuti pengajian dan melihat keadaan PP Al Fatah. Kunjungan tamu terutama adalah untuk mengikuti pengajian rutin setiap kamis malam yang disampaikan langsung oleh pimpinan pondok.? Jumlah tamu secara keseluruhan sekitar 20 orang.? Kami makan siang, malam dan sarapan pagi (esoknya) di ruang ini bersama-sama dengan cara makan kembul (satu nampan untuk empat orang) sebagaimana cara makan para sahabat Rasul.

Setelah istirahat dan bersih-bersih, sekitar jam 15.00, kami kembali ke masjid untuk mengikuti pengajian (bayan).? Disini, kumandang adzan Ashar jam 16.00 dan iqomat jam 16.30.? Selesai sholat Ashar; pengajian kembali digelar oleh ustadz lain (belakangan kami kenal sebagai ustadz Sugeng).? Kami lalui amalan berikutnya dengan sholat Maghrib, pengajian, Sholat Isha dan pengajian.

Kiranya pengajian ba?da Isha (Kamis malam Jum?at) menjadi puncak kegiatan malam itu.? Pengajian rutin mingguan ini disampaikan oleh pimpinan pondok KH Uzairan Thayfur Abdillah.? Jumlah peserta mencapai enam ribu orang, terdiri dari santri pondok, penduduk desa Temboro dan sekitarnya, penduduk Magetan, Madiun, Ngawi, Solo, hingga Wonogiri.? Materi pengajian menegaskan kembali keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, serta memelihara kalimat toyibah LA ILAHA ILLALLAH MUHAMMADUR RASULULLAH untuk senantiasa hadir dalam kalbu umat.? Jamaah diingatkan untuk meneladani perjuangan dan sifat-sifat para sahabat[1]?dalam menegakkan agama.? Keistimewaan berjuang dideskripsikan dengan pengalaman lapangan yang senantiasa menghasilkan peningkatan keimanan dan ketaqwaan.

Selesai pengajian, penulis mendapat kesempatan bersilaturahim dengan pak kiyai Uzairan.? Penulis hadir dalam ruangan di belakang mimbar masjid.? Disana para tamu sudah duduk melingkar menghadap kiyai. Beliau rupanya ingat dengan penulis, karena sudah bertemu dalam?pengajian sebelumnya?di PP Al Munawwariyyah, Bululawang, Malang (3 Nopember 2012).? ?Panjenengan kok namung sedinten kemawon dateng Temboro, .. taksih kirang.., monggo ba?da Isha kemawon tindak dateng Yogya?, kata beliau kepada penulis.? Rupanya beliau sudah menerima informasi perihal jadwal penulis. Penulis terdiam, sedikit tersenyum untuk menekan rasa malu.? Bagaimana tidak, karena suasana ini juga disaksikan oleh tamu-tamu lain (sekitar sepuluh orang) setingkat ulama dan kiyai. Ringkas cerita, silaturahim saat itu begitu berkesan bagi penulis. Dalam waktu kurang dua minggu, penulis bertemu dan silaturahim dengan sekelompok kiyai dan ulama dalam dua momentum yang berbeda.? Sungguh pengalaman yang mengharukan.

Kegiatan esok hari (Jumat) dimulai dengan sholat Shubuh berjamaah.? Adzan Subuh dilantunkan dua kali, yakni jam 03.00 dan 03.45.? Iqomat diserukan jam 4.15.? Jamaah shubuh sangat ramai, mengisi amalan dengan sholat sunah, tahajud, dzikir dan baca Quran di sela waktu-waktu itu.? Selesai sholat kemudian dilanjut lagi dengan pengajian.? Pagi itu kami sudah memiliki program untuk pindah posisi ke masjid lain di desa Temboro, yakni masjid Al Huda.? Namun sebelumnya, kami diberi arahan-arahan oleh ustadz Salim untuk menguatkan niat, arah, dan rambu-rambu program. Tidak lupa kami juga berdoa bersama memohon kekuatan, perlindungan dan? pertolongan kepada Allah. Program ini lebih tepatnya adalah belajar mengimplementasikan kehidupan para sahabat.? Selesai sarapan pagi, kami segera beranjak menuju ke masjid Al Huda, yang berjarak sekitar satu kilometer dari masjid pondok.

Kegiatan di masjid Al Huda ini adalah inti tujuan perjalanan kami.? Atas kehendak Allah, rencana reuni yogya batal sehingga penulis dapat menyelesaikan program hingga hari Minggu. Masjid yang terletak di tengah pemukiman warga desa ini memuat sekitar 50 jamaah.? Masjid sedang direhab, dan diperluas ke arah pelataran belakang, dengan bangunan bertingkat. Istimewanya, masjid ini menyediakan ruang atau kamar (5?5 m) untuk menerima kehadiran tamu, bisa memuat sekitar 15 orang dengan tidur berlantai karpet.? Di ruang inilah kami menginap dan beraktivitas. Dari sinilah kesan dan pengalaman Kampung Madinah lahir.? Apa saja kesan itu?

  1. Muhajirin dan Ansor.? Kedatangan kami dianggap sebagai tamu oleh warga setempat, dan semua kegiatan sudah dikoordinasikan dengan baik.? Kami berombongan sebanyak 12 orang (tambahan 3 orang dari Surabaya) dianggap sebagai kaum Muhajirin.? Warga desa sebagai kaum Ansor dengan bersemangat menerima kehadiran kami sebagai?saudara.? Kami sangat terharu dengan sambutan tersebut.? Sungguh luar biasa.? Kebutuhan menu makan (tiga kali sehari) dijamin, ditambah dengan minum, buah dan snak khas lokal.? Penulis yang biasa makan nasi hanya dua kali sehari merasa kewalahan keadaan tersebut, maaf .. takut menjadi gendut.? Penulis kagum dengan pak Mukhsim, yang bersemangat menyambut setiap menu.?? Kami sangat antusias dengan hidangan tempe goreng tepung pada sore hari.? Tempe lokal Magetan bertekstur kenyal sehingga ada sensasi saat mengunyahnya,.. mak nyus.? Rupanya, warga sudah terbiasa menerima tamu dan memiliki jadwal menyediakan menu (berkhidmad). Kesan kegembiraan tersebut bukan hanya dari makanan.? Warga Temboro dapat berkomunikasi dengan ramah, ikhlas, sabar dan ngemong.? Kami diberi nasehat, pencerahan atau informasi perihal kehidupan para sahabat, cara bersuci (istinjak), sejarah Temboro, dan peran pondok.
  2. Masjid yang makmur. ?Jumlah jamaah yang sholat wajib, khususnya Maghrib, Isha dan Shubuh, memenuhi ruangan masjid Al Huda.? Di tiga waktu itu, warga juga meramaikan dengan amalan sholat sunah, baca Quran dan dzikir.? Saat adzan pertama Shubuh jam 03.00, warga sudah berdatangan untuk sholat Tahajud dan sunah lainnya.? Masjid juga punya program ceramah ba?da sholat.? Ba?da Shubuh juga ada musyawarah untuk mendiskusikan kemakmuran masjid dan menguatkan fungsi dakwah. Setiap hari Jum?at ba?da Ashar ada program dakwah untuk mengundang warga mendatangi masjid.? Program dakwah ini adalah keunggulan masjid ini, dan menjadi tempat praktek para tamu dalam upaya memakmurkan masjid. ?Proses membangun kemakmuran masjid ini memang butuh proses yang panjang, perlu takmir yang handal dan ustadz yang sabar dan rendah hati.? Jamaah masjid ini memiliki 20 Tahfidz (menghafal) Quran, puluhan orang yang sudah bepergian dakwah ke seluruh dunia. ?Jadi, para jamaah umumnya sudah memiliki pengetahuan ilmu keagamaan yang mumpuni.? Namun mereka ikhlas duduk berlama-lama mendengarkan ceramah agama atau taklim dari ustadz kawannya sendiri.? Duduk dan menyimak berlama-lama adalah bagian dari ketawadhukan dan amal yang mulia sebagaimana para sahabat mendengar nasehat Rasulullah. ?Pendeknya masjid telah menjadi pusat kegiatan bagi banyak kepentingan umat.
  3. Kehidupan sosial. Di tahun tujuh puluhan sudah terdengar kata kota santri.? Itu merujuk kepada kota Gresik, atau lebih spesifik kepada kecamatan Bungah.? Profil kota santri Gresik antara lain (i) ada pendidikan umum dan diniyah, (ii) ada pondok pesantren, (iii) penduduknya berbaju muslim (bersarung dan berpeci hitam), (iv) banyak pendatang dan (v) kehidupan ekonomi perdagangan menonjol.? Profil Kampung Madinah hampir sama dengan Gresik namun lebih bernuansa Madinah (atau Arab).? Keadaan ini berkembang sejak tahun 1998, seiring dengan berkembangnya program dakwah oleh pondok.? Di Kampung Madinah Temboro, warga banyak menggunakan gamis dan berjilbab atau cadar (wanita), jubah (termasuk jubah pakistan) dan bertopi putih (pria). ?Kehidupan sosial di Temboro juga sangat tenang, layaknya kota Madinah yang penulis rasakan saat berhaji.? Penulis mengamati kehidupan pasar desa cukup ramai tetapi lembut.? Tukang kayu bekerja tenang, tidak ngoyo. Tukang-tukang bangunan bekerja sama dengan lembut tanpa banyak bicara.? Anak-anak sekolah bertingkah lembut tidak berisik.? Suasana desa terasa sejuk, tenang, kalem, sederhana dan syahdu. Suasana ini sungguh.. sangat merindukan. Suasana ini patut dicontoh bagi lingkungan perumahan, kantor, atau organisasi lainnya.? Kehidupan sosial di desa ini memang sungguh ramah dan hangat. Setiap selesai shalat, sedikitnya ada dua warga yang bertahan menemani, berbincang, dan membantu kami. Mereka berinisiatif memberi pencerahan ilmu keagamaan, ngobrol ringan, bahkan untuk konsultasi pribadi.? Kami biasa ditawari pijatan relaksasi, untuk mengurangi keletihan akibat tidur di lantai.? Bahkan mereka memberi tip pijatan khusus untuk kesehatan reproduksi.? Dari sini benih persahabatan muncul.? Rombongan kami, yakni Pak Mukhsim, pak Bajuri dan pak Suhaemi, yang punya pengalaman?program dakwah, sangat gayeng bercengkerama dengan warga (lihat?galeri foto).
  4. Banyak Pendatang.? Kelebihan lainnya di Temboro adalah jumlah pendatang yang mencapai 40 persen dari jumlah penduduk.? Sangat masuk akal, memang kehidupan disini mirip kampung Madinah.? Beberapa jamaah (khususnya para ustadz di pondok) kebanyakan pendatang. Ada yang dari Palembang, Padang atau Jawa.? Bahkan ada jamaah yang pensiun dini (usia muda) dan berpindah di Temboro untuk menggapai kehidupan religius. Disini, para pendatang dapat melaksanakan sholat berjamaah lima waktu, atau beraktifitas amaliyah di masjid.? Mereka ingin mengimplementasikan kehidupan para sahabat nabi, seperti di?Madinah.? Memang ini menjadi impian setiap muslim.? ?Siapa yang meninggal dunia di Madinah hendaknya dia menerimanya (dengan bahagia) karena tidak ada orang yang meninggal dunia di Madinah kecuali kelak aku akan memberi syafaat kepadanya.? (HR Ibnu Majah dan Al Turmudzi)
Lembah Panderman, 21 Nopember 2012

 

Share
2

DAKWAH DI PERANCIS

markazriiwn(gambar sebelah markaz raywind pakistan)

Abdul Basith Nasution > Kargozari Dakwah
Kisah dakwah di Perancis pd zaman hadratzi Maulana yusuf..
Suatu hr raja arab ingin mmbli tanah di franc utk membangun sebuah mesjid.Lalu raja mengirim sebuah surat kpd presiden franc..
Jwban presiden franc kpd raja,bisa wahai raja..
Asalkan siapkan tanah jg bwt saya di arab utk membangun gereja..
Raja faisal katakan wahai presiden jika gereja di bangun di arab mk ini akan mmbwt kemarahan umat islam diseluruh dunia…
Mk presiden franc jg mnjwb bgt jg di franc,jk dibangun gereja bs mmbwt kemarahan umat nasrani di franc…
Mk hal ini diketahui oleh maulana yusuf..
Lalu ada seorg mahasiswa yg bernama sana’ Allah,dia org yg terpintar diseluruh universitas di india..
Mk maulana yusuf mmanggil org tsb..
Hai sana’ Allah apakah kau org pintar..???
Ya Maulana saya org pintar…
jika kau mengaku org pintar bwtlah Dakwah kt maulana…
Maka sana’ Allah dpt takazah utk dakwah ke franc..
Selama di markas nizamuddin sana Allah trus bertanya kpd maulana…
Wahai maulana bgmn caranya…??
Maulana hanya katakan Gunakanlah kepintaranmu krn engkau sudah mengaku org yg pintar…
Setelah sana’Allah smpai di franc,dia mnginap disatu apartemen N ia jg bingung bgmn cr bs bertemu org2 islam..
Mk dia lht ada sebuah buku tlp…
ia tlp nama2 yg berbaur islam utk mngadakan jord…
Lalu bnyklah yg dtg sktr ratusan org,tetapi sdktpun tdk paham apa mksd yg dikatakan sana’ Allah..
dr ratusan itu pengikutnya cm 10 org…
Selama 3 thn menempa iman barulah bs khuruj 3 hr..
N pengikutnyapun bnyk bertambah..
Lalu presiden franc mmberikan tanah dgn cuma2 kpd org islam utk dibngun mesjid..
Stelah itu sana’Allah hrus kembali ke india utk karghujari dgn maulana yusuf..
Sana’Allah hanya 1 bln brsama maulana yusuf stelah itu maulana yusuf wafat…
Shingga hadrazi diganti dgn maulana innamul hasan..
Slama di india sana’Allah silaturahmi N mentasykil salah satu dosen yg sngat anti dgn tabligh..
Sana’Allah katakan wahai profesor engkau mw mndptkan gelar prof engkau mncoba suatu riset sehingga engkau mndpt gelar prof..
Apa salahnya klu engkau mncoba hal ini..???
ayolah prof engkau sudah sngt tua apa salahnya mncoba…
Mk prof pun dtg dihari jaulah..
Tetapi prof mnt kpd sana’Allah utk jaulah dluar..
mk di ijinkanlah…
Stelah jaln 3 langkah mk prof lgsg katakan Allahu akbar BESAR..BESAR..B?ESAR
Sana’Allah tanya apa yg besar ya prof…???
Prof jwb;Subhanallah? br aku jln 3 langkah Allah SWT mmperlhtkan kpdku sungguh besar pahala org yg bwt jaulah..
Shingga prof tak sanggup lalu uluh hatinya pecah krn besarnya pahala itu…
Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun
Stelah 3 thn di india Sana’Allah dpt takazah utk ke franc dgn bw jama’ah…
Lalu sana’Allah brgkt ke france dgn jumlah jam’ah 10 org..
Smpai di airport franc mrk lgsg sholat ditengah lapangan airport..
Tetapi para awak N pramugari airport katakan maaf pak kt sudah siapkan mesjid di airport ini…
Alangkah sngt terkejutnya sana’allah bgt mlihat mesjid yg ratusan org antri utk mlksanakan sholat..
Sana’Allah bertanya kpd seorg imam mesjid..
Wahai bpk knp sangat ramai org2 yg sholat..??
Imam katakan dahulu 6 thn yg lalu ada seorg anak muda yg brnama sana’Allah..
Dia bwt suatu usaha dakwah di franc…
Asbab dia skrg ini mesjid2 di franc berjumlah 3000 mesjid..
Karghujari from:Maulana Khalilullah pikirman Nizamuddin..
1 Februari pukul 16:44 ? Suka ? Ikuti Kiriman ? Laporkan
16 orang menyukai ini.
Selamet Riyadi
alhmdllh ketika di jepang dulu Allah pertemukan kami dgn prof.sanaullah.beliau sering di sebut sbgai FATHUL FRANCE
1 Februari pukul 19:11 ? Suka ? 3
Abdul Basith Nasution
Subhanallah bs ktemu dgn beliau…
Beliau pesan agar karghujari ini sampaikan kpd seluruh jama’ah…

Share
4

Malam Perhimpunan/ Markaz Dakwah dan Tabligh Malaysia

Senarai tempat perhimpunan mingguan umat Islam & masjid utama atas maksud melaksanakan kerja-kerja dakwah & tabligh di Malaysia. Semua muslimin dijemput hadir. Jazakallahu khair kepada mereka yang berusaha mengumpulkan data-data ini.

Read the rest of this entry »

Share
2

Final Day-Bisho Ijtema In Bangladesh-JAN2011

The Bishwa Ijtema (or Bisho Istema), (Bangla) or (World Congregation or Global Congregation or Meeting) is an annual Tablighi Jamaat Islamic movement congregation held at Tongi, Bangladesh by the river Turag. The event focuses on prayers and meditation and does not allow political discussion[1]. The local police estimated the number of attendees of 2007 ijtema to be 3 million[2] while in 2010 the number of attendees was 5 million. Read the rest of this entry »

Share
0

Nizammudin Markaz New Delhi, INDIA

love this place i will inshallah visit this place again..

Masha Allah… Allah mujhay bhee qubool farmaye deen ki mehnat k liye. (aap sab bhee meray or apnay liye yeh dua kardo please).

Aik or baat p itni khushi hoi k Masha Allah, is jagah bhee kaheen dukan p casette may Maulana Tariq Jameel sahab ka bayan chal raha hai. Bayshak Allah jisay chahay qubool farmaye.

Share
5

Olimpiade 2012 & Masjid Markaz London

Olimpiade 2008 baru saja ditutup, pesta olahraga terbesar di dunia selanjutnya direncanakan digelar di London pada tahun 2012.

londonmarkaz1

Ada kabar gembira lain yang ada kaitannya dengan Olimpiade 2012 ini, bukan kabar dari dunia olah raga, tetapi kabar tentang akan berdirinya sebuah Masjid Ilyas di Abbey Mills di atas tanah seluas 7,3 ha di dekat komplek stadion Olimpiade di kawasan Stratford, West Ham, London Timur. Masjid tersebut lebih populer dengan nama “Markaz London”.

Masjid ini direncanakan mampu menampung 12 ribu orang, bahkan untuk even-even tertentu, misalnya ijtima’ Eropa, masjid ini mampu menampung hingga 70 ribu orang jamaah.

Selain masjid, komplek ini juga akan dilengkapi dengan aula yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan, perpustakaan, taman dan sekolah yang mampu menampung 500 siswa.

Insyaallah masjid ini akan menjadi masjid terbesar di Inggris, bahkan di Eropa. Masjid ini juga disiapkan untuk menjadi markaz tabligh Eropa, menjadi semacam “hub” untuk jamaah-jamaah yang datang dan transit ke Inggris atau wilayah Eropa lainnya.

Di masjid lama yang sudah ada di tempat tersebut, jumlah jamaah yang hadir pada setiap malam markaz yang diadakan di setiap malam Jum’at sekitar 3.500 orang (banyak mana ya dengan Masjid Kebun Jeruk ?).

londonmarkaz3

Di London sendiri, proporsi jumlah penduduk muslim juga cukup besar. Di kota ini terdapat sekitar 625 ribu jiwa muslim dari sekitar 7,5 juta jiwa, ini berarti setiap 1 dari 12 penduduk London adalah muslim. Statistik lain bahkan menyebutkan bahwa jumlah penduduk muslim di London mencapai 1,3 juta jiwa atau 17 % dari jumlah penduduk London. Di kawasan-kawasan tertentu bahkan jumlah penduduk muslimnya ada yang mencapai 90 %. Jumlah tersebut diyakini akan semakin bertambah di masa-masa yang akan datang.

Insyaallah, salah satu pendorong meningkatnya jumlah pemeluk Islam ini adalah asbab usaha dakwah yang dijalankan secara terus menerus dan tak kenal lelah, siang malam, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan dan 365 dalam setahun.

Dengan asbab usaha ini, jumlah mereka yang beralih keyakinan ke Islam juga terus bertambah dari hari ke hari, banyak di antaranya yang berasal dari kalangan bangsawan dan profesional. Di samping itu, angka kelahiran di kalangan penduduk muslim rata-rata juga lebih tinggi dibanding angka kelahiran di kalangan komunitas lainnya.

Saat ini, London merupakan kota yang mempunyai masjid paling banyak dibanding kota-kota lain di Eropa. Dengan keadaan seperti ini orang sering menyebut London dengan “Londonistan”, untuk menggambarkan betapa London dari hari ke hari semakin bersuasana dan bercitarasa “Islam”.

londonmarkaz4

Dalam sejarahnya, masjid pertama kali didirikan di Inggris sekitar 80 tahun yang lalu. Perkembangan jumlah masjid dari tahun ke tahun cukup luar biasa, saat ini jumlah masjid di seluruh Inggris mencapai lebih dari 1000 buah, banyak diantaranya bekas gereja Anglikan yang sudah lama tidak dipakai lagi sebagai tempat ibadah.

Mudah-mudahan, suatu saat Allah SWT menghantarkan kita ke Markaz London ini, juga ke markaz-markaz yang lainnya, untuk ikut serta memikirkan bagaimana agama ini bisa semakin tersebar di seluruh alam. Insyaallah

Share
35

Worldwide Tablighi Markaz Addresses

Assalumulaikum..kindly confirm the address of ur markaz and if it has changed then send the new address.

Abu Dhabi: Kaleem Razal, Al-Musaffah, Abu Dhabi. 971-2-721-..

Afghanistan : Haji Md Meer, Sarai Nelam Farrush, Shahbazar, Kabul. 155-23798

South Africa : Markaz, Bait-un-Nur, 17, 11th Avenue Mayfair, Johannesburg. 011-8392633

New Markaz :

Johannesburg is: Masjid -E- NOOR
No 2 Crownwood Road, Crown Mines Johannesburg the telephone number: (+27)118392663. The Durban markaz IS Masjid Hilaal adress is crescent Road berea / overport durban kwa zulu natal

Kirk St Masjid, 12 Kirk St, 2001 Johannesburg. (G. M. Padia) 27-31-923-841, faks 27-11-852-4011

Albania:

Dr Abdul Latif Saleh, Tirana. +355-42-25440/25438
Seshi Avni Rustemi, Tirana. +355-42-23038
Dr Skender Durresi, Tirana. +355-42-32710

Aljazair:

Masjid An-Najah, Al-Mohammedia, Algeria. (Belqasim Merad 213-2-750)

USA(UNITED STATE OF AMERICA):

Dearborn Mosque, 9945 West Vernor Highway, Dearborn, Detroit. +1-313-8429000
Markaz New York, 425, Montauk Avenue, Apt. 1, Brooklyn, New York.
Markaz, Masjid Falah, 42-12, National St., Corona, New York. (Loqman Abdul Aleem) +1-718-4767968
Abdur Raqeeb, 130, 69th St., Guttenberg, NJ 07093. +1-201-86.. , +1-718-8587168 (faks – Faqir)
Markaz, 820 Java Street, Los Angeles. (dekat Arbor Vitae St.) +1-310-4199177 (Dr Abd Rauf)
Farouq Toorawa, Los Angeles. +1-310-6755456
Masjid Al-Noor (Markaz), 1751 Mission Street, San Francisco. +1-415-5528831
Vallejo Mosque, 727 Sonoma Boulevard, Vallejo, California. +1-707-6452024
Naser Sayedi, 1777 East West Road, P.O.B. 1703, Honolulu. +1-808-735..
L/Cpl Chaudary, Hawaii. 732-272-5549.

Islamic Centre, 1935, North Eo Place, Manoa, Honolulu.

Angola:
Comunidade Islamica em Angola, Caika Posta 2630, Luano.

SAUDI ARABIA(Arab Saudi):

Abdul Ghaffar Noor Wali, Jeddah. 966-2-6371607
Ghassan 6823041 Dr Ahmad Ali, P.O. Box 22310, Riyadh 11495. 966-1-6023679

Argentina:
Ahmad Abboud, Centro Islamico, Av. San Juan 3049/53, Buenos Aires. 54-1-973577

Australia:
Markaz, 90 Cramer Street, Preston 3074, Melbourne.
Sheikh Mo’taz El-Leissy, Melbourne. 61-3-94784515
Markaz, 765 Wangee Road, Lakemba, Sydney. 61-2-97593898
S. Hamid Latif, Lakemba Mosque, 63/65 Wangee Road, Lakemba 2195, Sydney. 61-2-759-3899, 61-3-470-2424
Markaz, 427 William Street, Perth.
Abdul Wahab, Perth. 61-9-4596826

Austria:
A. Khaleque Qureshi, Masjid Belal, Diefenbachgasse 12/12, 1150 Wien. 43-1-9387615, 43-1-7366125

Azerbaijan:

S. Uzair M. Ali, Orzhenigidzebskoy, Noboy Gumarbel M3/2F (?)

Bahamas:

Jamaat ul Islam, P.O. Box 10711, Nassau.

Bahrain:
A Aziz Baluch, P.O. Box 335, Manama. 953-256-707

Bangladesh:

Maulana A Aziz, Kakrail Masjid, P.O. Ramna, Dhaka. 88-02-239-457
Bangladesh:Moulana Jobaer (at present one of the shuras)
+8801552405252


Barbados
:
Maulana Yusuf Piprawala, Kensington New Road, Bridgetown. 1-809-426-8767

Belanda:
Moskee Arrahman (Markaz), Van Ostade str. 393-395, 1074 Amsterdam. (Tram no. 4 dari stesen keretapi) (Al-Kabiri) 31-20-764073

Belgium:
Masjid Noor, Rue Massaux 6, Gemeente Schaarbeek, 1030 Brussels. (Mostafa Nooni) 32-2-219-7847
Masjid Van Slambrouck, Fortuin St. 6, B8400 Oostende.

Belize:
Md Riaz, 3132 Kraal Road, Belize City.

Bermuda:
Md Mosque, Basset Bldg Court, St. Ram, Hamilton
.
Biera:
Omar Osman, P.O. Box 382 (?), Biera. 23260

Bolivia:
Biab Khalil, P.O. Box 216, La Paz. BX 5418 (teleks)

Brazil:
A Aziz Alinani, Imam, Centro Islamica, Ax W-5 Norte, Brazil. 55-11-278-6789

Britain:

Markazi Mosque, South Street, Saville Town, Dewsbury. (Hafez M Patel) 44-924-460760, 44-924-46685? (faks)
East London Markazi Masjid, 9-11 Christian St, Off Commercial Road, London E1. (Zulfiqar) 44-71-4811294

Brunei:
Hj Jamili Hj Abbas, 647 Kg Lumapas. 673-8-810480, 673-2-337488.

Bulgaria: Hj Mahadi, Bandar Sri Begawan. 332148
Mufti Basri Osman, Plovdiv. 359-2-233-109

Cad:
Masjid-e-Noor, Share Namer, N O’Jamina. (Adam Yusuf Amin)

Cecen:

Dudaeb Shakmarze, Ul. Khakalskaya 90/2/42, Grozni.

Cile:

Taufiq Rumie, Edwardo Castillo Valesco 1160, Nunoa, Santiago. 56-2-496-081, 56-2-294-182

China:
Hilal D. C. Guangyun, V. C., Stand Comm, East Dist. Peoples Congress, .
.
Dagastan:
Habibullah, Sk Mohuddin, village Gubdan, Lewanshowski.

Denmark:

Note: Old Markaz “Makki Masjid, Brikegade 4 KLD, N Kobenhavn (Copenhagen). 45-43-(35)-361-513
Centre Mosque, Morbaerhaven Block 18 c/4, 2060 Albertslund. 02-454368″

Tabligi Markaz Copenhagen, Denmark
Jagtvej 51,basement
2200 Copenhagen N
Denmark
Contact person.Faiz Hussain
mobile.+ 45 2612 1729
please change the adress, Jazak?Allah

Assalamo-alikum wa rehmatullahe wa barakatuhu
I would like to add one more brother as contact person for Tabligi Markaz in Copenhagen, Denmark
Zahid Iqbal
Mobile: +45 6070 2426 from Outside
6070 2426 from Denmark

JazakAllah
Brother Faiz

Dubai:
Shaikh Hamdan, Masjid al Kasis, Al Kasis No. 3, dekat Umm Kulsum Che.

Ireland (Eire):
Masjid, 7 Harringto Street, Dublin.
Dublin Islamic Centre, 163, South Circular Road, Dublin 8.
Md Shigara, 21, Wolseley Street, Dublin 3. 353-1-540-027

Ethiopia:
M. M. Kechia, Abu Bakr Masjid, Kwas Maida, Addis Ababa. 251-1-130-208, 135-823 (Ibrahim Sufra)

Feringg:i
Abu Bakar Sulil, Masjid Odiveas, Rua Thomas de Anunciacao 30 R/C Esq, Odiveas 2675, Lisboa.

Fiji:
Noor Ali, Raki Raki Jama Masjid, P.O Box 15, Raki Raki, Fiji. 679-24440, 679-94002

Filipina(phllipine):
Masjid Abu Bakar, Marawi City, Lanao del Sur, Mindanao.

Finland:
Omar Nizamuddin, Puutarhankatu 18A, Helsinki. 358-21-513-572
Masjid, Fredrinkatu 33B, 00120 Helsinki 12. 358-0-643-579, 358-0-149-6395
Masjid, Abrahaminkatu

Gambia:
Abdul Wadood, Arabic Madrassa, Serekunda.
Ghana:
T. Osang, P.O. Box 170A, Rock of Islam Mosque, Labadi, Accra. 233-21-663-443, 665-06

Guinea:
Md Boye, P.O. Box 12294, Barry, Conakary.

Guinea Bissau
:
Abayu Bayo, Jamia Kabir, Bissau.

Guyana:
Azim Khan, 35, Kraig Village, East Bank, Demerara. 592-(02)-62269 (Georgetown)

Hong Kong:
Masjid Ammar, 40-01 Kwon Road, Wanch.. 5-892-0720 (Md Qadeem, Zafar 852-3-5-239-975)

Hungari:
A. Hafez, Flat 9, 84 Linen Kurt, Budapest. 36-1-833-905, 36-1-276-0482 (Babikir)
Dr Izzedin, Estergomiut 56/VII/26, 1138 Budapest.
Ibrahim, Fortuna (hotel murah), Szolgaltaro GMk, 1073 BP, Akacf

India:
Banglawali Masjid, 168 W. Nizamuddin, Basti Nizamuddin, New Delhi. 91-11-494-7137 (faks: Farooq),
617-142 (..)

Indonesia:
Masjid Jamek, 83 Jalan Hayam Waruk, Kebun Jeruk, Jakarta Barat. (Ahmad Zulfikar) 62-21-821-236, 639-5585, 682-378
Masjid Istiqlal, Jalan Yos Sudarso, Dumai, RIAU.

Iran:
Al Amir A Roaf, Masjid e Tauhidi, Zahedan.
Iraq:
Sk Kazim, Montaga Buhimania Al Karich, Share Mar’uf, Baghdad.

Italy:

El Amrani, 3231 Via Vanzetti No. 3, Cita di Sudi (Cascino Rosa), Milano. 39-10-952-20?, 39-6-802-258
Masjid, Via Bertoloni 22/24, Roma
Masjid,Via Berthollet 24, Torino
Masjid, Via de Groce 3 (Tingkat 4), Trieste
Jabaltariq
Masjid Cesemate Sq., Main Street, Gibraltar. 350-73058

Jamaika:
Naeem A. Muta’ali, Muslim Community, 54 Wildman Street, Kingston. 1-809-9283516 (Akbar), 9286789 (Naeem)
Islamic Center of Jamaica, 134 1/2 King Street, Kingston.

Japan:
Markaz Islaho Tarbiyat (Ichnowari), 1-1-6 Bingonishi, Kasukabe-Shi, Saitama-Ken, Tokyo 334.
Ibrahim Ken Okubo, Room 105, Bingo Higashi 1-22-20, Kasukabe Shi, Saitama Ken, Tokyo 344. 0487-36-2767 (tel) 04-8738-0699 (faks)
Syed Sohel 04-8736-2767
Masjid Darus Salam, 772, Oaza Sakai, Sakai Machi, Sawa-gun, Gunma Ken.
Hafiz Afzal 030-146-1419
Masjid Shin Anjo (Nagoya), Bangunan Kamimoto, Tingkat Satu, 1-11-15, Imaike-cho, Anji-Shi, Aichi Ken.
Najimuddin 030-56-32101
Nufail 030-56-50432, 056-698-9408
Masjid Takwa (Chiba), Sanbu-Machi, Sanbu-Gun, Ametsubo 65-12, Chiba Ken (dekat stesen JR Hyuga).
Lokman 043-444-5464, 030-067-9223
Shamin 010-404-4748
Makki Mosque (Narimasu, Tokyo), stesen Narimasu (Tobu line).
Asraf 010-609-2479
Markaz Hon-Atsugi (Kanagawa). 0462-27-5936
Islamic Center, 1-16-11 Ohara Setagayu ku, Tokyo 156. 03-7870916, 4606169
Islamic Center, C Hoko Mansion 4-33-10 Kitazawa, Setagaya ku, Tokyo 156.
Nerima K. K. Mati, 1-30-17 Kopsaki 205, Tokyo. 81-3-450-6820, 81-3-553-7665 (Ismail), faks 81-3-458-3967
A. Aziz Mecavale, 175 Kumitashi Cho, Tokyo. (d/a Akarim Seth)

GERMANY (Jerman):
Md. Nawaz, Masjid, Muenchener str. 21, Frankfurt. (06175)1673, (0221)550..
Md. Nawaz, Berliner str. 31, 6374 Steinbach. (06171) 75360
Barbaros Gamii (masjid), Kyffhavser str. 26 (dekat Barbarossa Platz), 5 Koeln 1 (Cologne). (Husseinbeg
Firat 467477, Zia) 0211-213870
Masjid, Lindower str. 18-19, 1000 Berlin 65. (030) 4617026
Masjid, Landwehr str. 25, Muenchen (Munich). (dekat stesen keretapi)
Masjid, Steindamm, Hamburg. (dekat stesen keretapi)
Masjid, Haupsletter str. 715, Stuttgart. 0711-6406775

Jibouti:
Salem Ahmad, Deeday Masjid, P.O. Box 730, Djibouti. 253-762-189, 5818 FIANEA (teleks)

Jordan:
Md Mustafa Al Wafai, Masjid Madeenat al Hujjaj, Mukhayam Het.. 962-6-774-257

Kamerun:
Osmany c/o Alhaj Md, P.O. Box 19, Marwah.237-291-5..

CANADA(Kanada):
Medina Masjid, 1015 Danforth Ave., Toronto. (Ismail Patel / Anjum Mohammad)1-416-465-7833.

Kazakhstan:

Baba Khanov, Muslim Religious Board of Central Asia, Alma Ata.

Kenya:

A. Shakoor, Londi Mosque, sebelah balai polis Kamakunsi, Nairobi. 254-2-764-224, 254-2-340-965

Cyprus (Kibris):
Ahmet Cetkin, Harika Camii, Palamud Sok No. 11, Asa Marao.

SOUTH KOREA (Korea Selatan):
Imam Qamaruddin, Masjid Annur, GPO Box 10896, Seoul. 82-2-556-

COSTA RICA (Kosta Rika):
Mostafa Md Imam, Centro Islamico, Dasamprados Casa 7-16, San Jose. 506-272-878

Kuwait:
A Rashid Haroon, Subhan Markaz, Al Mantiga Sinaere, Kuwait.

Laos:
Maulana Qamaruddin Noori, Masjid India, P.O Box 617, Vientianne. 3776

Liberia:
S M Azmat Subzwari, Randall Street Mosque, Monrovia. 231-225-0..

Libya:
Mustafa Kuraitty, Jame al Badri, Bab bib Ghasher, Tripoli. 218-61-72138.
.
Lubnan:
A Hasib Sar Hal, Imam Ali ut Tariq Jadidah, dekat Madrasah Farooq, Beirut.

Luksembourg:
Islamic Centre, Route Darlon 2, Mamar. (S. B. Khan Afridi) 352-311695.

Madagaskar:
Yakub Patel, P.O.Box 101, Tamatave. 261-5-33202
Maghribi:
Alhaj Ali, Masjid en Noor, Hayya Araha 61, Darul Baida, Casablanca. 212-366-483..

Malawi:
Ebrahim Makda, Juma Masjid, Kamuza Proc. Road, Lilongwe. 265-720216

Malaysia:
Masjid Jamek Sri Petaling, Bandar Baru Sri Petaling, Kuala Lumpur. 60-3-9580515. 60-3-7595063 (Madrasah Miftahul Ulum). 60-3-7586134 (faks: Hj Khalid)
Abdul Wahid, Kota Kinabalu. 088-232994 (r), 088-225081 (o).

Maldiv:
Ibrahim Hassan, G. Aabin, Male Island.

Mali:
Ismail, Markaz Haidara, P.O. Box 1551, Bamako. 223-22-22.
.
Malta:
Md El Sadi, Islamic Centre, Corradino Road, P.O. Box 11, Paola, Malta. 356-772-163..

Mauritania:
Daud Ahmad, Masjid Shurfa, P.O. Box 14, Nouakchott.

Mauritius:
Masjid Nur, Gora Issac St., Port Louis. 230-2424904
Mir AM Soorma, Shaukat Islam Mosque, P.O.Box 328, Port Louis. 230-26.
.
Meksiko:
Mir Y Ali, Norte 40A, No. 3612A, Col 7 de Noviembre, Mexico DF.. 537-1138

Egypt:
Masjid Anas bin Malik, Madinatul Muhaddithin, Share Iraqu Giza, Cairo. 20-2-702-804, 20-2-348-6185

Mozambik:
Md Rafiq Ahmad, Av Dazambia 305, I C Flat 4, Maputo. 258-2378..

Myanmar:
B. A. Ground Mosque, dekat stesen keretapi Rangoon. 95-1-74436, 3100(Bhay)

New Zealand:
Abdul Samad Bhikoo, Auckland Mosque, 17 Vermont Street, Ponsonby, Auckland. 64-9-3764437
Masjid AnNur, Christchurch. 64-3-3483930
Ishan Othman, Dunedin. 64-3-4767121

Niger:
Yahya Sa’ati, Sooq al Kabir, dekat Mohatta Sayarat, Niamey.

Nigeria:

NIGERIA DAWAT TABLIGH MARKAZ

(MOSJID NOOR ARAROMI ILORIN, KWARA STATE, NIGERIA).

Hamza Oshodi, Central Mosque, 37 Church Road, Saban Gari, Kano. 47-2-9883..
Norway:
K. M. Riaz, Bilal Masjid, Tordenskjolds Gt. 86, 3044 Drammen. 47-2-9883-..
Islamic Centre, Nosdahlbruns Gt. 22, Oslo 1
.
Oman:
Masud Harthi, Jame Khalid ibni Walid, Assib, Muscat. 92-21-415..

Pakistan:
AlHaj A. Wahab, Madrassa Arabia, Raiwind, Lahore. 92-21-415.., 92-21-216..(fax)
Makki Masjid, Garden Road, Karachi.

Panama:
A F Bhikoo, Jama Masjid, 3rd Street & Mexico Avenue, Panama City. 517-256-44..

Pantai Gading:
Md Amin (Jallo), Masjid Ahlesunnah, P.O. Box 110, Danane. -(225)-635-320 (Boike town)

Perancis:
Sh. Yunus Tlili, Masjid Rahman, Ave. Paul Vaillent Couturier 52, 93200 St Denis. 33-1-48.23.78.89, 48.26.78.78
Markaz Marseille, Rue Malaval 24, 13002 Marseille. 91908047

Peru:
Naguib Atala, Casilla 3134, Lima. 51-14-294-620

Poland:
Yakub, ul. Piastowska 77, Bialistok. Masjid, ul. Abrama 17A, Gdansk.
Boguslaw Zagorski, ul. Rozlogi 6 Apt. 51, Warszawa (Warsaw).

Puerto Riko:
Arab Cultural Club, Km 5, KMO 65th Inf Ave, Rio Piepras, PR0092.

Qatar:
Abdullah Ahmad, Masjid Mantaya Sanaiya, P.O.Box 40621, Doha.

Reunion:
Yusuf Lockati, Masjid Nurul Islam, 97400 St Denis. 262-200..

Romania:
Masjid, Ovidiu Square, Constanta.

Russia:
Masjid, Prospect Mira (dekat Olympic Station), Moscow. 281-4904
Sayyid Akhtar, Moscow.

Rwanda:
A Majid Suleman, Medina Masjid, Kegali. 250-7536

Senegal:

Sk Ahmad, Masjid Al Noor, P.O. Box 1955, Colobane, Dakar. 221-223-262

Siera Leon:
Hassan Taravaly, 4 Rush Street, Circular Road, Freetown
.
Singapur:

Masjid Angulia, 265 Serangoon Road. Singapore 218099

Tel: +65-62971624 Fax: +65 62965380

Email: tablighsingapore@hotmail.com

Syura bros:

Hj Akhtar: +65-96620308
Hj Hassan :+65-97110466

Hj Abdul Karim: +65-97991584

Hj Najmuddin: +65-97578609

Hj Osman: +65-97110486

Somalia:
S Sheraff, Masjid e Dawat, Magaiscia. 252-1-81963

Spanyol:
Musa Taha, Mezquita Ataqua, Calle Correo Viejo – 4, Albaicine, Granada. 34-58-255-611

Sri Lanka:
Tablighi Markaz, 150 Lukmanjee Sq, Grandpass Rd, Colombo. (Md Lebbe Master) 94-1-25910

Sudan:
Dr D H Khalili, Masjid Hamddab, Ash Shaharah, Khartoum. 249-11-222428

Surinam:
Mufti B Piprawala, Masjid Taedul Islam, Mutton Shop 10B, Paramaribo. 597-81394

Swaziland:
Md Hassan, P.O. Box 201, Maikerns. 83327

Sweden:
Markaz, Tarsgatan 91, Stockholm. 46-8-334-490 (A Raof), 46-8-750-8511 (S Zaidi)
Dr M Piar Ali, Tarsgatan 45B, Stockholm
Tonsbergsgatan 4, 3TR, 16434 Kista. 46-8-719-3215 (P Ali) Masjid, Gamlagatan, Uppsala. 46-18-21998281

Switzerland:
Hussain Osmani, Muslim Association, 2-A Linderain str Post F 1650, 30012 Berne. 41-31-228-396, 556-321
Masjid, Chemin Colladon 34, Petit Saconnex, Geneva. (Tram no. 12) 7987311
Islamic Center, Narstr. 19, Zurich.
Masjid, Tingkat 3, Ausstellungstr. 21, Zurich.

Syria:
A M M Hosni, Razaqul-Jin-Sary, Zaid b Sabit, Merchant Modaiya, Damascus.

Syarjah:
Ali Bhai Patel, Al Futiaim Motors, P.O. Box 5819. 971-6-548-629

Tadjikistan:
A Rahim Mostafa, Masjid Shah Mansoor, ul. Wasfe, Dushanbe.

Taiwan:
Chinese Muslim Association, 62 H’sin Shen South Rd, Sec 2, Taipeh. 886-2-522-4473
Nurrdin Hsueh Wen Ching, P.O. Box 1430, Kaohsiung. 886-7-7498749, 886-7-5215771

Tanzania:
Sayed Mohsin, Medina Masjid, P.O. Box 5050, Dar es Salam. 255-61-26455

Thailand:
Hanif A. Shakur, Masjid Aslam, Bangkaoli, Bangkok. 662-235-3956..
Markaz, Minburi. (30 km dari pusat Bangkok)
Markaz, Yala.

Togo:
Imam Ratib, Sk Al Hassan, Grand Mosque, Zongo, Lome.

Trinidad:
Raziff Ghany, Monroe Road Masjid, Monroe Road, Cunupia. 809-650-1985

Tunisia:

Cheikh Abdelhamid Bouzayene
Markaz Tabligh
Dar Lamen
Kairouan Tunisia
+21699581779

Mestaoui Habib, 28 Rue Ibn Khaldoun, Ben Arous, Tunis. 216-1-380-843

Turki:
Umar Vanlioglu, Mescidi Salam, Sultan Ciftligi, Habibler Koyu, Istanbul. 90-1-3854053, 90-1-5951773, 90-1-5054619 (faks: C. Korkut)

Turkmenistan:
Uraz Murod, Uraz Md, Haji Noor, Masjid, Ashkabad.

Uganda:
Omar Mazinga, Masjid Nur, William St., P.O. Box 2046, Kampala. 256-41-246-63..

Uzbekistan:
Murad, Madrassa Mir e Arab, Bukhara. 42170
Imam Mustafa Khul, Samarkand, 353268
Ziauddin, Idara Diniyat, Tashkent. 351307

Venezuela:
Farooq A Rahman, Islamic Center, Calle-9, Urb La Paz, El Paraiso, Caracaz. 58-2-498322?

Vietnam:
M. Zakaria, Mutawalli Mosque, 66 Tnilap Thanh, Saigon.
Masjid Annur, 12 Hang Luoc street, Hang Ma ward, Hoan Kian precinct, Hanoi.
Ustaz Muhsin, Madrasah Arabiah, 25A Lang Ha street, Hanoi.

Yemen:
Hamood Faki, Masjid As-Sawad, Al Habbah Annagal St, Al Harabi, Sana’a. 967-2-227-246

Yugoslavia:
Jusufspabic Md., Jevremova 11, 11000 Belgrade. 38-11-642-043, 622-654

Yunani (Greece):
Greece Markazi Masjid Rassos, 9 Galaxia Strape (dekat Kosmos), 117/45 Athens.
Munir Mahmud, G. Papandreau 87, Goudi, Athens. 30-1-775-8155, 30-531-24863 (Hussein Mostafa)

Zaire:
A. M. Patel, 39 Mama Yemo, P.O. Box 155, Likasi. 243-12-28272

Zambia:
Ahmad Nomani, P.O. Box 510191, Chipata. 260-62-21161
Ahmad Karodia, Md Ravat, P.O. Box 30324, Lusaka. 260-1-212-023

Zimbabwe:
Y. Hussain, Ridgeview Masjid, Boeing Road, Ridgeview. 263-4-292..

Wallahu a’lam

Share
8

Markaz Sri petaling Part 1

Markaz Sri Petaling 02Markaz Sri Petaling 03Markaz Sri Petaling 04Markaz Sri Petaling 05Markaz Sri Petaling 06markaz sri petaling

Share
1

Taking tea with the Tablighi Jama’at

Taking tea with the Tablighi Jama’at

By Jenny Taylor

I realized quite suddenly that I was in love with India.  It had been building up, from admittedly inauspicious beginnings.  The suffocating yellow dust of Delhi, the huddled poor in filthy rags sitting by miserable little fires on every patch of waste ground; the scabby dogs and dying puppies; the way nothing ever seems to be finished off, or final; the traffic that careens crazily along pitted highways; the way no one, literally no one, can drive in a straight line, or give way. Yet in twenty years, India has changed.  Once you get tuned in, it dawns on you that India is doing what I once thought beyond imagining: changing for the better.  The slums are not as big as they were.  People actually queue for things, rather than simply barge past you to reach their objective.  There is a Metro that is clean, efficient and safe (all bags are searched politely and thoroughly, with a booth for women).  Poverty may be all around, but the mental illness one might assume it would cause is no greater per head of the population than in UK, where incomes are seventy times higher.  Even the cycle rickshaw wallah, a village escapee, peddles his creaking load with gusto, mopping his brow triumphantly with the rag he wears around his head, and grinning as if he had just won the marathon.

I am leaving after six weeks travelling all over the country, from the Dalai Lama’s mountain home-in-exile in the northwest, to the jungles of Orissa in the central south east.  And what I will miss is the human contact, the kindness, the strangely intimate comradeship of a shared struggle, the belief everyone has in the national project.  The humility of the Delhiwallah is astonishing and redemptive.  He gets on with his lot, however meagre, with a strange resolve.  I will miss the way catastrophe is so often averted right at the last minute, when all seemed hopeless, by people who ultimately look out for each other.  I love the way, even if catastrophe does strike, people just get going again: the 126 people who were knocked off the roof of a train by overhanging branches in Andra Pradesh, will get back on their feet and back on some other train roof despite the three deaths, because that’s what you do with no money, and a need to travel.  And no one has it in them to deny at least hope to the poor.

I love the all-night sound of the community’s chowkidar, the night watchman, banging his sticks and blowing his little whistle as an ‘all’s well’ that lulls me to sleep.  I’ll miss the monkey man who beats his drum down our street for a penny.  I’ll miss the love-starved, half-feral puppies on every garbage heap who go weak and fall into your hands if you so much as stroke them.  The cows that wander past my suburban balcony, munching the shrubbery; and the pregnant cows that just get on and give birth in the middle of the traffic.  I’ll even miss the cowpats on the sidewalks – because of what it represents.  India hates boundaries, endings, things that belong here and not there.  The sacred is co-existent with the secular and everyone is deeply religious.  Sikh men chant the guru’s book together in a circle in the park in the early morning as they do their exercises.  The best restaurant in town is in the same filthy alley as the biggest Muslim prayer hall.  Anyone can wander into the famous Jama Masjid and photograph the up-ended bottoms of the faithful at dusk.  Everything is mixed up with everything else and almost anything is possible.

History is never history in Delhi; the past lives on with the present, as William Dalrymple has so poignantly observed in City of Djinns. Nonetheless change is coming.  MacDonalds sells tikka-burgers and fries, and as our populations merge, it could be Wood Green.  The old mission station in Diptipur, west Orissa has a red-and-white Vodaphone mast towering over it.  A self-made entrepreneur from a severely deprived village background is building a whole new futuristic suburb in Bhubaneshwar on a bank loan – and educating 7,000 tribal children on the strength of it.  Someone else is developing a vaccine for salmonella.

The TJ markaz or HQ in NizamuddinBut my love affair with India became official the evening I took tea with the Tablighi Jama’at.  They’re the other-worldly Islamic missionary sect whose markaz or international headquarters is in the teeming old basti or slum of Nizamuddin.  The name means ‘preaching party’.  They are expected to devote up to 80per cent of their lives travelling from mosque to mosque, evangelising the disciplines of reformist Islam, renewing the faithful in preparation for the life hereafter.

Totally unannounced, and with a brazenness that staggered even me, I wandered uninvited through the open gateway and asked for an interview with Maulana Saad, the great grandson of the founder Maulana Muhammad Ilyas.  The alarming reputation of this sect in Britain had daunted me, and I had needed all the professional courage and personal faith I could muster to surmount the threshold.  But as I had no phone number, and I was leaving Delhi within two days, it was do, or die.

The TJ is said to have 80 million followers around the world and wants to build a so-called megamosque in Newham, east London.  A combination of factors has caused increasingly alarm in Britain about the Tabligh.

Medieval poverty surrounds the TJ HQ in DelhiWhat I wanted to know was why they were building a new ‘global headquarters’ – as it’s been called – in London, presumably moving from their historic location in Nizamuddin that, with its surrounding tombs of poets and warrior kings, reeks of a peculiarly Indian Islam whose Mughal heritage fascinated the British for centuries.  Surely we need to understand the cultures that shaped our migrants if we are to have any meaningful relationship with them?  What can a dislocated Dewsbury or Newham kind of Islam do for us, with all its huffing and puffing about equality and its justified or unjustified taint of terrorism? Would not a rekindled sense of Indian Islam’s continuity with the complex couplets of the nineteenth-century Mughal poet Ghalib who lived nearby, and the architectural achievements of Humayun whose bones lie entombed a hundred yards from the TJ markaz, help us a hundred times more?  Would not an understanding of the Hindu persecutions of the Meo tribe, the first Tabligh converts, put things in a helpful new perspective?

So there I was, without a word of Urdu, with only two names on a piece of paper gleaned from Wikkipedia, and a mobile phone if I got abducted or worse.  A fine-boned young man in a startling white turban waved me in and on – and I found myself standing next to a shrieking green parrot in the homely hallway of Maulana Saad’s family, being looked at silently by several females of varying shapes and sizes, all draped in shawls or burqas, who must have thought I was some kind of apparition.

But undaunted, the lovely bespectacled woman who turned out to be Mrs Saad bade me remove my shoes and come in – to what turned out to be the zenana, the women’s quarter of the large and spacious house at the side of the huge concrete complex.  Muslims who want to get closer to God in prayer come here from all over the world, to be taught by the descendants of one of the leading Islamic reformers of his day.  The TJ was the most enduring of the many reform movements that sprang up in response to the Hindu shuddhi or purification movement from 1875 onwards.  The Arya Samaj had alarmed Muslims by its success at ‘re-converting’ nominal Muslim tribals to the so-called ‘mother religion’ of India, when numbers became a political issue after the British introduced a religion census in 1871.  TJ is avowedly a-political.  It longs for heaven, and anticipates victory for Allah, but all bets are on it happening in the hereafter, not now in India or Pakistan – or Newham.

'Other-wordly'?As I sat cross-legged on floor cushions, a young woman in several layers of black and a nose stud joined me, and we quizzed one another in halting English.  I showed her the photos of my half-Indian nieces, assuring her their father was Muslim, even though I was not. They brought me fruit juice, almonds, cashew nuts, dates from Medina and tiny yellow sultanas.  Then they brought me sweet chai with hot milk in little stainless steel teapots on a tray.  After piecing together who I was, and what I wanted, Mrs Saad, with great simplicity, once more ushered me forward, this time to sit adjacent a door kept just ajar enough for me to be addressed by two bearded men, whom I knew instinctively I should not turn and look at.  For as TJ Mufti Bulandshahri says:  ‘Women should not come before strangers.  They may give to strangers a short reply to their questions from behind a screen.’

Thus protected from certain danger, there began the most extraordinary conversation.  My interlocutor told me he was none other than Professor Sana’a Suhan, the famous statistician from Aligarh University, who did his PhD at the Sorbonne in France.  His answers to my questions were subtle, thoughtful and interesting.  But on one thing he was absolutely adamant.  He repeated it in different ways throughout the 15-minute encounter as if there were already considerable debate going on about it within the establishment.  There will be no markaz in London.  It will just be a mosque, and possibly a school, to cater for the number of Muslims who want the training and cannot get to Delhi.  ‘Personally, for me, they should construct a mosque according to the need of that area and whosoever says this is a markaz should never tell it like this.  Maulana Sa’ad does not agree with this idea so whosoever says it is a markaz you may freely tell: “I have been to Nizamuddin and there is no markaz.”

Then he says it again.  ‘This is simply the idea of some enthusiastic people that this is a markaz.’

And again.  ‘These are not sincere people who name it a markaz.  It should be named a masjid [mosque] and that’s all.’

I put to him local concerns about cohesion and integration caused by a 12,000 capacity building and he says:  ‘This is for the government in England.  They have to see whether there is a need for such a big mosque.’

He said that Nizamuddin was the pioneer mosque, the ‘markaz of the whole world’ – but not a place where global strategy was worked out.  It was a place of prayer, and a place to learn more about prayer.

As if to address my unspoken concerns about the hijacking of an other-worldly movement by those with a more secular agenda, he added:  ‘Prayer is a pivotal worship in Islam around which the whole of Islam revolves.  If a Muslim is not performing the prayer in such a way as to build the Islamic character, he may claim to be Islamic – as more than 50 per cent Muslims claim – but if they don’t perform the prayer, then they are not.’

Then, abruptly, he was gone, back to his praying.  And he took my card so I could be followed up by a tabligh, a preacher, in Britain, who could give me some books.

Then the women came and enfolded me in shawls for the evening prayer and Qur’an recitation, spoken with hands cupped to heaven, and amin whispered again and again in response to the words intoned by Sa’ad himself over the loudspeakers built into the walls of the zenana.  Asma said she could not do the Qur’an reading because she had her period.  Neither could she pray the salaat.

Before I could go into that delicate subject, it was time to go.  But not before the gentle Mrs Saad had loaded me with gifts: a huge box of dates from Medina; several large books on tabligh; and most incongruous of all, a large bottle of Cartier Déclaration eau de toilette.

We kissed one another goodbye.

And that’s when I knew my love affair with India was for real.

Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...