Tafsir Surah al-Baqarah (Maulana Hadi)

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Audio Tafsir Qura'an

01- Tafsir Surah al-Baqarah (Maulana Hadi)

02- Tafsir Surah al-Baqarah (Maulana Hadi)

03- Tafsir Surah al-Baqarah (Maulana Hadi)

04- Tafsir Surah al-Baqarah (Maulana Hadi) coming…

Muqaddimah Sahih Bukhari (Maulana ‘Asri) Sesi Baru

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Audio Syarah Hadith

………………………………………………………………………

01- Muqaddimah Kitab Sahih Bukhari (Maulana ‘Asri)

02- Muqaddimah Kitab Sahih Bukhari (Maulana ‘Asri)

03- Muqaddimah Kitab Sahih Bukhari (Maulana ‘Asri)

Tafsir Surah al-Fathihah (Maulana Hadi)

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Audio Tafsir Qura'an

01- Tafsir Surah al-Fathihah (Maulana Hadi)

Kenapa pusat da’wah di India, tidak di Arab?

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Artikel Tabligh

.

Ini merupakan pertanyaan yang disampaikan, dan kami mencoba berbagi pandangan dengan sdr. sekalian.

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Mari kita ungkap lebih dalam perihal pertanyaan ini, dan kita jangan termasuk seperti bani Israil yang menanyakan kenapa Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman itu terlahir dari Arab tidak dari bani Israil. Pertanyaan ini terlontar sangat wajar karena banyak Nabi lahir di kalangan bani israil, dan memang dari turunan Nabi Ishak As ini sangat banyak Nabi. Sedangkan dari Nabi Ismail As hanya satu Nabi saja, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi akhir zaman.

Ummat Islam ini bukan hanya berada di arab, tetapi sudah sangat tersebar ke berbagai negara. Semua sejarah mencatat dengan baik perihal da’wah Abi Waqash RA sampai ke negera Cina. Atau kisah-kisah lainnya. Kita bisa bayangkan dengan pikiran yang normal, tanpa ada pesawat atau kendaran yang sangat hebat saat itu, tetapi kaum muslimin telah menembus negara-negara untuk menyampaikan agama Islam yang mulia ini. Jika kita perhatikan daratan yang ditempuh, gunung yang tinggi dan suhu yang dingin, tetapi mereka terus bergerak ke negara-negara jauh. Kira-kira SEMANGAT APA yang menjadikan mereka berani meninggal tanah air dengan waktu yang sangat panjang itu. Hal ini bisa terjadi karena PIKIR yang menghujam ke dalam diri mereka seperti mana PIKIR NABI untuk menyebarkan Islam ke seluruh daerah dan tempat. Apa PIKIR NABI itu? Allah swt dengan jelas dan lugas menjelaskan pikir dan kerisauan beliau itu dalam ayat Al-quran sendiri.

Perhatikan dengan ayat At-Taubah terakhir 128-129:

“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), Maka Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung”. (At-Taubah: 128-129).

Para Shahabat RA dan juga para Ulama dulu sangat memahami perihal risau ini, mereka ini menyelami kisah Nabi bagaimana ke thaif, mereka ini menyelami kisah Nabi ketika mengajak kaumnya sendiri di mekkah, mereka ini menyelami bagaimana hijrah Nabi ke Madinah, bagaimana keluarganya sendiri ada yang menghina dan mau merencanakan membunuhnya. PADAHAL apa yang diinginkan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, yang mulia ini. Sebuah keselamatan dan keimananan bagi ummat manusia. Nabi kita bukan mau harta yang dapat diwariskan kepada anak-anaknya. Jadi para Shahabat dan juga para Ulama berani untuk berpergian yang jauh untuk menyebarkan Islam ini dengan harta dan jiwa mereka sendiri. Silahkan pelajari kisah-kisah penyebaran Islam ke Indonesia, dan terutama dengan kehadirannya orang-orang Arab di Indonesia. Kalangan Arab ini sangat berperan dalam penyebaran Islam, dan menurut sejarah banyak dari kalangan Hadramaut yang ke Indonesia.

Kemajuan kaum muslimin di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA yang signifikan yaitu setelah ditetapkannya tempat berhimpun dan menjalankan aktifitas ijtimaiyyah kaum muslimin, Masjid. Masjid ini yang menjadi titik central Utama di jaman itu. Bahkan banyak penjelasan tolok-ukur kaum muslimin dapat dilihat dari kedatangannya ke masjid. Dan banyak ayat dan juga hadist yang menjelaskan keutamaan terhadap masjid ini. Jika Allah swt dan juga Nabi kita menekankan perkara masjid, maka tentunya masjid ini mempunyai peran sangat penting bagi kehidupan kaum muslimin dari masa ke masa. Kita dapat mempelajari perihal keutamaan masjid dalam kitab yang ditulis para Ulama.

Sehingga siapapun di dunia ini yang dapat menjalankan aktifitas-aktifitas masjid itu dengan baik seperti mana yang terjadi di jaman Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Dan terutama dengan aktifitas da’wah Islam, karena da’wah Islam ini mempunyai dampak perubahan dari ketidaktaatan menjadi ketaatan itu sendiri. Kita kaum muslimin sangat dianjurkan untuk menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat yang mungkar. Dari jelas da’wah itu merupakan aktifitas untuk melakukan perubahan dari yang tidak diridhoi menjadi yang diridhoi Allah swt. Sehingga jika da’wah ini dijalankan di masjid, maka dengan sendirinya pesan dan kesan masjid itu akan masuk ke dalam rumah-rumah kaum muslimin. Dan da’wah ini tidak mungkin dijalankan kecuali dengan ijtimaiyyah jika dilakukan di masjid kita.

Ada satu ayat yang sebenarnya cukup penting dipelajari dengan baik, bagi kaum muslimin yang menjalankan aktifitas da’wah ini, yaitu Ali-Imran:104. Dalam ayat ini terdapat kata “waltakum minkum ..”, terdapat dua penjelasan terhadap ayat ini oleh kalangan Ulama yaitu “Membentuk sebagian dari kaum muslimin ….” Dan “Membentuk Ummat Islam sebagai Ummat Da’wah ..”. Tetapi keduanya pada prinsipnya adalah sama untuk mendorong aktifitas da’wah itu sendiri. Yang namanya “membentuk ..” tentunya mencetak atau menjadikan seseorang untuk terjun dalam da’wah. Jika dilakukan di masjid, maka secara kemestian perlu dilakukan tertibnya atau metodanya dengan baik. Dalam hal ini kita sendiri dapat menyusun  metodanya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing, tetapi bukan berarti kita harus berpegang terus dengan prosedur kita jika ada yang membawa metoda yang lebih mudah dan menyeluruh.

Masjid Nabawi di Arab belum menjadikan sebagai pusat da’wah, tetapi masih dijadikan sebagai pusat pengajaran dan pendidikan (ta’lim) Islam. Karena tentunya para Ulama sendiri sangat memahami apa pengaruh (efek) dari da’wah itu sendiri. Da’wah itu akan memberikan perubahan ke setiap lingkungan masyarakat, dan tentunya akan memberikan dampak orang-orang untuk berdatangan ke masjid itu sendiri dengan sukarela. Kaum muslimin sekarang juga datang ke masjid Nabawi, itupun sebenarnya karena pengaruh da’wah (ajakan) meskipun caranya mungkin dari kata-kata ringan. Sehingga banyak juga kaum muslimin akhirnya untuk belajar di masjid Nabawi. Tetapi jika menjadikan pusat da’wah, maka akhirnya akan disebarkan ke berbagai negeri untuk menyebarkan Islam. Dan nantinya secara automatis akan banyak orang datang ke masjid Nabawi ini, dan seterusnya kembali menyebarkan Islam. Dan akhirnya menggerakan semua aktifitas lainnya, seperti ta’lim, ibadah dan juga khidmat atau muamalat.

Waktunya akan datang, para Ulama di arab sendiri terutama yang mendukung usaha da’wah dan tabligh seperti Syeikh Abu Bakar Al-Jazairi juga sangat paham ini, tetapi perlu mempertimbangkan dengan hikmah dan dalam. Oleh karena itu beliau sendiri hanya menjelaskan ketika ditanya perihal usaha da’wah di masjid itu, bahwa usaha da’wah ini merupakan mutiara di akhir jaman. Jadi pengaruh da’wah dan ta’im sangat berbeda hasilnya. Waktunya akan datang dengan sendirinya, ketika sudah siap semuanya. Jika tidak, maka akan sangat mudah dihancurkan da’wah ini oleh musuh-musuh Islam itu sendiri. Kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa perihal perahu merupakan pelajaran terpenting bagi kalangan ahli da’wah, agar semuanya berjalan dengan sederhana dan senyap, tetapi semuanya berjalan dengan jelas dan pasti. Pelajaran

Dan Maulana Ilyas Rah memulai dari masjid yang sangat sederhana di daerah Nizamuddin, dan sekarang tersebar ke seluruh dunia bahkan tembus negara-negara Eropa, Amerika dsb. Bahkan beberapa tahun yang silam kaum muslimin Inggris sangat berkeinginan membangun masjid markaz ini menjadi masjid yang indah dan besar, dan hal ini disampaikan kepada maulana Inamul Hasan Rah, tidak dapat diiijinkan oleh beliau. Dan bahkan beliau mendorong untuk membangun masjid besar dan megah di Inggris sendiri, dan hari ini menjadi perbincangan di Inggris akan menjadi masjid terbesar di Eropa yang dibangun kalangan da’wah dan tabligh. Dorongan Maulana Inamul Hasan Rah itu sekitar 15 tahun yang lalu.

Kita boleh berkeinginan dan merencanakan. Tetapi juga kita harus menyaqini bahwa Allah swt sendiri mempunyai rencana. Maulana Ilyas Rah hanya sebagai asbab saja untuk kaum muslimin, tetapi sebenarnya semua tertib itu telah tertulis dengan baik oleh para ulama dulu. Dan beliau ini hanya perangkai dari sumber-sumber itu yang saling berkaitan untuk menjadi sebuah model metoda da’wah dan tabligh, dan sekarang ijtihad itu telah banyak memberikan kesan dan pesan ke seluruh dunia, termasuk di kalangan arab sendiri termasuk para Ulama. Dan jika banyak mempelajari siapa Maulana Ilyas dan keluarganya. Kita akan mengetahui bahwa mereka juga merupakan turunan dari kalangan para Shahabat RA.

Thanks,

Haitan

Kurikulum Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Artikel Tabligh

Usaha da’wah dan tabligh merupakan satu bentuk pergerakan Islam yang cukup sangat dinamis di jaman sekarang ini. Tidak mungkin satu pergerakan tanpa mempunyai metodologi gerak secara ijtimaiyyah, termasuk juga kurikulum ataupun silabus pengajaran Al-Islam itu sendiri. Dan hal ini sudah menjadi hal yang umum dalam proses pengajaran memerlukan kurikulum dan silabus itu sendiri, dan dengan sendirinya akan juga berhubungan sumber-sumber buku yang menjadi bacaannya.

Kami yang sempat berhubungan perguruan tinggi dalam pengembangan kurikulum dan silabus, serta juga ma’had Islam sendiri, maka kurikulum dan silabus mempunyai peran yang cukup penting untuk mencapai tujuan yang hendak dicapainya dengan baik. Hal ini juga berlaku untuk usaha da’wah dan tabligh, begitupun juga kami kira dengan ma’had atau madrasah Islam lainnya.

Kitab-kitab yang ditulis para Ulama dulu sangat banyak sekali, dan tidak mungkin dapat dipelajari dan diajarkan seluruhnya kepada kaum muslimin. Sehingga diperlukan penyusunan yang bersesuaian dengan sasaran yang hendak dicapainya dalam pengajaran itu sendiri. Para Ulama yang berkecimpung dalam usaha da’wah dan tabligh sendiri banyak menulis kitab-kitab yang cukup tebal, TETAPI tidak semua bacaan itu menjadi bahan bacaan secara ijtimaiyyah.  Bahkan jika membawanya saja mungkin sudah cukup sulit ketika mengadakan khuruj.

Pengajaran yang ditekankan adalah untuk memahami bahwa kesuksesan dunia dan akherat jika mengikuti perintah Allah swt dan menjauhi apa yang dilarangnya, serta menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupannya secara 100%. Dan untuk memudahkan hal ini perlu dijelaskan perihal sifat-sifat utama yang dimiliki para Shahabat RA, dan ditekankan pada enam sifat utama. Sehingga pelajaran kisah-kisah Shahabat RA tentunya dengan Rasulullah SAW menjadi pelajaran yang sangat rutin.

KItab Hayatush Shahabat, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab yang banyak dibaca ketika di malam markaz. Kitab ini terdiri dari 3 jilid tebal, mengisahkan perihal Rasulullah SAW dan para Shahabat RA dalam hal ibadah, da’wah, jihad, pengorbanan, ijtimatiyyah, belajar-mengajar, ikramul muslimin, akhlaq dsb. Dan khusus dalam bab pertama dijelaskan yang sangat penting yaitu ketaatan kepada Allah swt dan Rasulullah SAW, dan juga mengikuti para Shahabat RA.

Kitab hikayat para Shahabat, susunan Maulana Dzakaria Rah, kitab ini biasanya dibundle dalam kitab fadhoil amal. Kitab ini banyak dibaca kalau sedang keluar dan juga di rumah atau di masjid. Disamping itu terdapat beberapa kitab fadhilah yaitu Sholat, Dzikir, Quran, Tabligh, Ramadhan. Semuanya disatukan biasanya dalam kitab fadhoil amal. Tetapi bacaan kitab fadhilah Ramadhan, biasanya dilakukan ketika keluar di bulan ramadhan ataupun mau menghadapi bulan ramadhan.

Terdapat juga kitab Al-Muntakhabatul Hadist, susunan Maulana Yusuf Rah, merupakan kitab pilihan ayat dan hadist yang berkaitan dengan enam sifat Shahabat (enam prinsip). Disamping tersebut terdapat buku yang kadangkala dipergunakan ketika khuruj, kecuali di daerah timur tengah lebih banyak dipergunakan, kitab itu adalah Kitab Riyadhush Sholihin, susunan Imam Nawawi Rah.

Terdapat pelajaran yang sering diulang, kalaupun terdapat kitabnya tetapi kitab ini hampir tidak dibaca secara ijtimatiyyah tetapi dibaca secara infirodhiyyah, pelajaran ini adalah enam sifat Shahabat, juga ushul-ushul da’wah dan adab-adab Islam.

Ada juga kitab fadhilah Shodaqah dan Haji, disamping tersebut ada kitab fadhilah lainnya, fadhilah dagang,  yang ditulis oleh Maulana Dzakaria, ataupun perihal kajian terhadap pendalaman da’wah dalam kerja da’wah dan tabligh, bahkan terdapat beberapa buku yang ditulis oleh para ustadz di Indonesia. Tetapi hal itu bukan menjadi sebuah bacaan yang bersifat ijtima’iyyah, tetapi infirodhiyyah. Artinya belum tentu ahli da’wah sendiri mempunyai buku-buku itu.

Bacaan Ijtimaiyyah hampir sama ketika khuruj, ataupun di rumah atau masjid. Tetapi pelajaran infirodhiyyah merupakan bacaan untuk meningkatkan kualitasnya sesuai dengan kemampuan dan keinginannya. TENTUNYA seseorang yang mempelajari bacaan buku-buku secara individu ini akan memberikan kesan secara langsung kepada jama’ah itu sendiri. Karena ketika bayan, ataupun taqrir, seseorang yang mempunyai pengetahuan dan pendalaman luas akan menyampaikannya sesuai dengan kepahamannya. TETAPI kerangkanya tidak keluar dari kerangka ijtimaiyyah.

Pelajaran Infirodhiyyah merupakan proses belajar-mengajar yang dilakukan atas kemampuan dan keinginan sendiri. Sehingga dapat saja seseorang mengikuti kurikulum atau silabus yang dibangun oleh satu ma’had yang lainnya, misalkan mengikuti pelajaran kitab shohih bukhari dan muslim, atau pelajaran fiqh Imam Syafi’I, dsb. Pelajaran ini akan menambah kepahaman dan kualitas sendiri dari yang mengikutinya.

Para Ulama yang menjalankan usaha da’wah ini cukup lama memahami bahwa ijtimaiyyah tidak dapat mengantikan infirodhiyyah, begitupun infirodhiyyah tidak dapat menggantikan ijtimaiyyah. Sehingga para ulama atau masyaikh da’wah mendorong untuk meningkatkan jiwa tholab dalam mencari ilmu, tetapi untuk ijtimaiyyah para Ulama melakukannya melalui musyawarah-musyawarah secara berkesinambungan dan tentunya perlu memperhitungkan dengan baik.

Kitab yang dibaca terutama ketika keluar/khuruj fi sabilillah, di masjid atau di rumah yaitu:

1.       Bundel Buku-Buku Fadhilah Amal:

a.       Fadhilah sholat, Maulana Dzakaria

b.      Fadhilah dzikir, Maulana Dzakaria

c.       Fadhilah quran, Maulana Dzakaria

d.      Fadhilah tabligh, Maulana Dzakaria

e.      Fadhilah ramadhan, Maulana Dzakaria

f.        Kisah-kisah para Shahabat RA, Maulana Dzakaria

g.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan

2.       Hayatush Shahabat, Maulana Yusuf (kitab 3 jilid tebal)

3.       Kitab Hadits-Hadits Pilihan, Maulana Yusuf

4.       Kitab Riyadhush Sholihin, Imam Nawawi

5.       Fadhilah Haji, Maulana Dzakaria

6.       Fadhiah Shodaqah, Maulana Dzakaria

Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat memberikan pendekatan yang lebih mudah diserap oleh semua lapisan kaum muslimin. Tidak hanya untuk semua lapisan tertentu, misalnya hanya untuk kalangan penuntut ilmu atau santri madrasah, tetapi semua lapisan dapat melibatkan diri dengan baik, apakah itu pelajar, apakah itu petani, apakah itu pedagang, apakah itu dokter, dsb. Dan semua Nampak dengan jelas kalau kita melibatkan diri dalam usaha da’wah dan tabligh atau juga menghadiri ijtima’i-ijtima’I pertemuan yang dilaksanakan, semua lapisan kaum muslimin dapat melibatkan diri, atau juga ketika khuruj fisabilillah.

Biasanya jika semangat telah tumbuh, maka seseorang berusaha untuk meningkatkan kualitas pemahaman melalui kitab lainnya: kitab fiqh Islam, buku-buku berkaitan dengan usaha  da’wah dan tabligh, do’a-do’a harian. Beberapa tulisan kecil yang sangat erat dengan usaha da’wah dan tabligh ini yang dapat meningkatkan pikir yaitu:

1.       Keruntuhan Ummat Islam dan Cara Perbaikannya, Maulana Ihtisamul Hasan

2.       Penderitaan Ummat dan Penyelesaiannya, Maulana Dzakaria

3.       Perasaan Ummat seruan Maulana Yusuf

4.       Sebuah Seruan Kepada Kaum Muslimin, pesan disampaikan Maulana Ilyas dalam konferensi seluruh Ulama Indoa dan pemimpin politik Muslim

5.       Enam Prinsip Tabligh, Maulana Ishaq Elahi

6.       Malfudhat Maulana Ilyas, Maulana Manzoor Nu’mani

Tulisan-tulisan di atas ini merupakan bahan bacaan infirodhiyyah, dan tidak dilakukan secara ijtimaiyyah. Disamping mungkin saja untuk meningkatkan kualitas pendalamannya, misalkan melalui kajian tafsir Quran, Syarh Hadits, dsb. Peningkatan infirodhiyyah tentunya akan banyak memberikan pengaruh ijtimaiyyah, begitupun ijtimaiyyah akan banyak memberikan dorongan terhadap infirodhiyyah.

Bagi kaum muslimin yang mempunyai kemampuan tentunya juga sebaiknya mempunyai kurikulum ataupun silabus untuk pendalaman-pendalaman Islam lainnya, sehingga pendalaman tersebut mempunyai arah dan sistematika yang jelas dan beraturan. Dan beberapa kitab perihal Ilmu selalu menjelaskan kurikulum dan silabus pengajaran Islam dengan baik, hal ini untuk menghindari pengajaran yang tidak beraturan dan tidak terstruktur.

Meskipun seperti itu sasaran utama dari ta’lim wat ta’allum dalm usaha da’wah dan tabligh ini adalah bagaimana menghidupkan amal agama 100% dalam kehidupan kita sebagai muslim. Bukan menjadikan buku-buku itu sebagai tumpukan yang tidak ada artinya, jangan sampai seperti perumpaan keledai yang membawa tumpukan kitab yang tidak memberikan kesan sama sekali.

Sekian penjelasan dari analisa dan sintesa kami pribadi berkaitan dengan Kurikulum Pengajaran melalui ta’lim fadhoil amal dan hayatush Shahabat, dan juga berkaitan dengan usaha da’wah dan tabligh juga. Kami akan lanjutkan dalam tulisan lainnya, beberapa pesan yang disampaikan maulana Ilyas Rah yang berkaitan dengan ilmu. Sehingga kita kaum muslimin dapat memperhatikan hikmah yang terkandung di dalamnya.

Terimakasih

The Power of Tabligh: Conversion of the Mongols

Author: GOTABLIGH.COM  //  Category: Karkuzari

Sumber:http://attalib.blogspot.com/2008/03/power-of-tableegh-conversion-of-mongols.html

Allaamah Abul Hasan Ali an-Nadwi (RA), Nadwatul Ulama (Lucknow, India)

Islam was about to be submerged in the whirl-pool of the Mongol ardour of slaughter and destruction, as several Muslim writers had then expressed the fear, wiping it out of existence, but Islam suddenly began to capture the hearts of the savage Tartars. The preachers of Islam thus accomplished a task which the swordarm of the faith had failed to perform, by carrying the message of Islam to the barbaric hordes of heathen Mongols.

Conversion of the Mongols to Islam was indeed one of the few unpredictable events of history. The Tartaric wave of conquest which had swept away the entire Islamic east within a short period of one year was, in truth, not so astounding as the Mongol’s acceptance of Islam during the zenith of their glory; for, the Muslims had by the beginning of the seventh century of Muslim era imbibed all those vices which are a natural outcome of the opulence, luxury and fast living. The Mongols were, on the other hand, a wild and ferocious, yet vigorous and sturdy race who could have hardly been expected to submit to the spiritual and cultural superiority of a people so completely subdued by them, and who were also looked down and despised by them. The author of the Preaching of Islam, T.W. Arnold, has also expressed his amazement over the achievement of this unbelieveable feat.

“But Islam was to rise again from the ashes of its former grandeur and through its preachers win over these savage conquerors to the acceptance of the faith. This was a task for the missionary energies of Islam that was rendered more difficult from the fact that there were two powerful competitors in the field. The spectacle of Buddhism, Christianity and Islam emulously striving to win the allegiance of the fierce conquerors that had set their feet on the necks of adherents of these great missionary religions, is one that is without parallel in the history of the world.

“For Islam to enter into competition with such powerful rivals as Buddhism and Christianity were at the outset of the period of Mongol rule, must have appeared a wellnigh hopeless undertaking. For the Muslims had suffered more from the storm of the Mongol invasions than the others. Those cities that had hitherto been the rallying points of spiritual organization and learning for Islam in Asia, had been for the most part laid in ashes: the theologians and pious doctors of the faith, either slain or carried away into captivity. Among the Mongol rulers – usually so tolerant towards all religions – there were some who exhibited varying degrees of hatred towards the Muslim faith. Chingiz Khan ordered all those who killed animals in the Muhammadan fashion to be put to death, and this ordinance was revived by Qubilay, who by offering rewards to informers set on foot a sharp persecution that lasted for seven years, as many poor persons took advantage of this ready means of gaining wealth, and slaves accused their masters in order to gain their freedom. During the reign of Kuyuk (1246-1248) who left the conduct of affairs entirely to his two Christian ministers and whose court was filled with Christian monks, the Muhammadans were made to suffer great severities.

“Arghun (1284-1291) the fourth Ilkhan persecuted the Musalmans and took away from them all posts in the departments of justice and finance, and forbade them to appear at his court.

“In spite of all difficulties, however, the Mongols and the savage tribes that followed in their wake were at length brought to submit to the faith of those Muslim peoples whom they had crushed beneath their feet.”

Unbelievable and of far-reaching significance, although the conversion of the Mongols to Islam had been, it is also not less surprising that extremely few and scanty records of this glorious achievement are to be found in the annals of the time. The names of only a few dedicated saviours of Islam who won proselytes from the savage hordes are known to the world, but their venture was no less daring nor their achievement less significant than the accomplishment of the warriors of the faith. Their memory shall always be enriched by the gratitude of Muslims for they had, in reality, performed a great service to the humanity in general and to the Muslims in particular, by diffusing the knowledge of faith among those barbarians, winning them over to the service of one God and making them the standard-bearers of the Apostle of Peace.

After the death of Chenghiz Khan the great heritage of that Mongol conqueror was divided into four dominions headed by the offsprings of his sons. The message of Islam had begun to spread among all these four sections of the Mongols who were rapidly converted to the faith. In regard to the conversion of the ruling princes in the lineage of Batu, the son of Chenghiz Khan’s first born Juji, who ruled the western portion as Khan of the Golden Horde, writes Arnold:

“The first Mongol ruling prince who professed Islam was Baraka Khan, who was chief of the Golden Horde from 1256 to 1267. According to Abu’l-Ghazi he was converted after he had come to the throne. He is said one day to have fallen in with a caravan coming from Bukhara, and taking two of the merchants aside, to have questioned them on the doctrines of Islam, and they expounded to him their faith so persuasively that he became converted in all sincerity. He first revealed his change of faith to his youngest brother, whom he induced to follow his example, and then made open profession of his new belief … Baraka Khan entered into a close alliance with the Mamluk Sultan of Egypt, Rukn al-Din Baybars. The initiative came from the latter, who had given a hospitable reception to a body of troops, two hundred in number, belonging to the Golden Horde; these men, observing the growing enmity between their Khan and Hulagu, the conqueror of Baghdad, in whose army they were serving, took flight into Syria, whence they were honourably conducted to Cairo to the court of Baybars, who persuaded them to embrace Islam. Baybars himself was at war with Hulagu, whom he had recently defeated and driven out of Syria. He sent two of the Mongol fugitives, with some other envoys, to bear a letter to Baraka Khan. On their return these envoys reported that each princess and amir at the court of Baraka Khan had an imam and a mu’adhdhin, and the children were taught the Qur’an in the schools. These friendly relations between Baybars and Baraka Khan brought many of the Mongols of the Golden Horde into Egypt, where they were prevailed upon to become Musalmans.”